Friday, August 12, 2011

Being in Love

Since a month ago, I've been reading a book entitled A Year with C. S. Lewis: Daily Readings from His Classic Works as a part of my daily quiet time. This morning I discovered an insightful writing on love in marriage from the book. I'd like to share it to you in my blog.

If the old fairy-tale ending "They lived happily ever after" is taken to mean "They felt for the next fifty year exactly as they felt the day before they were married," then it says what probably never was nor ever would be true, and would be highly undesirable if it were. Who could bear to live in that excitement for even five years? What would become of your work, your appetite, your sleep, your friendships? But, of course, ceasing to be "in love" need not mean ceasing to love. Love in this second sense--love as distinct from "being love"--is not merely a feeling. It is a deep unity, maintained by the will and deliberately strengthened by habit; reinforced by (in Christian marriages) the grace which both partners ask, and receive, from God. They can have this love for each other even at those moments when they do not like each other; as you love yourself even when you do not like yourself. They can retain this love even when each would easily, if they allowed themselves, be "in love" with someone else. "Being in love" first moved them to promise fidelity: this quieter love enables them to keep the promise. It is on this love that the engine of marriage is run: being in love was the explosion that started it.

--from Mere Christianity

Wednesday, December 9, 2009

Sukacita Natal


SUKACITA NATAL: SUKACITA MACAM APA?

Grinch adalah makhluk hijau mengerikan dengan sekujur tubuh penuh bulu. Pada awalnya ia tinggal di antara para Who, manusia-manusia cebol, di desa Whoville. Namun malang, karena penampilannya yang aneh ia sering diejek dan ditertawakan oleh teman-temannya. Puncaknya, tatkala seluruh penduduk Whoville merayakan natal, Grinch dipermalukan oleh seluruh teman kelasnya. Penolakan itu membuat ia amat benci natal dan semua hal yang berhubungan dengan natal. Akhirnya, Grinch menyingkir dari Whoville untuk menyendiri di puncak gunung sebelah Utara desa Whoville. Di sana ia tinggal sebatang kara bersama anjing kesayangannya, Max. Selama berpuluh tahun, Grinch mengurung diri. Ia tak menampakkan diri pada siapa pun.

Natal kali ini adalah natal yang spesial bagi para Who. Seluruh penduduk Whoville sibuk menyambut perayaan natal ke-1000, yang mereka sebut Whobilation (dari kata Jubilation artinya "perayaan besar"). Mereka semua sibuk membeli kado-kado natal dan baju-baju baru. Mereka juga sibuk menghias desa dan rumah mereka dengan dekorasi natal yang indah. Tak ketinggalan, pesta super meriah pun mereka persiapkan untuk menyambut natal.

Tanpa sepengetahuan para Who, Grinch telah berencana untuk mengacaukan perayaan natal mereka. Pada malam natal, ia mendatangi rumah-rumah para Who untuk mencuri semua benda natal. Hiasan natal, kado-kado, makanan, juga baju-baju baru. Harapan Grinch saat pagi natal datang, seluruh penduduk Whoville akan kecewa dan meratap. Tanpa dinyana Grinch, seluruh penduduk Whoville justru bergandeng tangan, bernyanyi bersama, dan bersukacita. Bagi para Who, sukacita natal bukan disebabkan pernak-pernik dan keramaian natal tetapi persaudaraan dan kasih antar teman dan keluarga.

Cerita tadi adalah ringkasan dari novel yang berjudul How the Grinch Stole Christmas (1957) karangan Theodor Seuss Geisel (1904-1991). Pada tahun 2000, kisah ini difilmkan dengan judul The Grinch dengan tokoh utama diperankan oleh aktor watak Jim Carrey. Film ini bersama-sama dengan sebagian film-film Natal Holywood lainnya telah "mengajar" kita sebentuk sukacita natal, yaitu: sukacita yang terwujud pada kasih antar keluarga dan teman. Satu sisi, ajaran akan sukacita semacam ini baik. Paling tidak film-film ini menanamkan konsep bahwa dalam merayakan natal yang terutama bukan ornamennya—hiasan, kado, baju baru, pesta, atau liburan, melainkan kasih pada sesama manusia. Meskipun demikian, sukacita natal menurut ajaran Alkitab lebih dari sekadar kasih antar manusia.


SUKACITA NATAL: SEORANG RAJA TELAH LAHIR

Natal identik dengan sukacita. Coba tengok warna-warna yang dipakai untuk dekorasi natal! Kebanyakan ornamen natal itu didominasi dengan warna merah dan hijau. Warna-warna cerah dan meriah, bukan warna-warna yang "suram." Konon warna merah dan hijau itu dari merahnya buah apel dan hijaunya pohon cemara. Pada abad ke-14, tiap malam natal gereja menampilkan drama Adam dan Hawa dengan memakai buah apel yang digantung pada pohon cemara untuk buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Natal pun selalu berasosiasi dengan kegembiraan karena sering dianggap sama dengan limpahnya kado dan meriahnya pesta.

Dalam Lukas 2:19, dikatakan para gembala kembali dari mengunjungi bayi Yesus "sambil memuji Allah dan memuliakan Allah." Meskipun tidak ada kata "sukacita" dalam ayat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa mereka pulang dengan sukacita. Reaksi mereka tepat seperti berita malaikat pada mereka, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa" (Luk. 2:10). Mengapa para gembala ini pulang dengan bersukacita? Apakah mereka baru saja menyaksikan drama atau konser natal yang meriah? Ataukah mereka baru saja dapat kado natal dan menikmati kue-kue natal-natal? Tentu saja jawabannya tidak.

Pada masa itu, profesi gembala merupakan profesi rendahan dan tidak mulia. Mereka kebanyakan merupakan orang-orang upahan, karena mereka biasanya adalah anak-anak laki yang lahir belakangan sehingga tak mendapat tanah warisan untuk digarap. Tugas mereka sebagai gembala membuat hidup mereka nomaden. Mereka harus terus berpindah-pindah dan selama berbulan-bulan meninggalkan rumah ke tempat-tempat yang jauh untuk mendapatkan rumput dan air bagi domba-domba mereka. Lukas 2:8 menunjukkan hal tersebut. Ketika malaikat menjumpai gembala-gembala itu, mereka sedang tidur beratapkan langit, tepatnya di hamparan padang rumput.

Perginya para gembala upahan ini dari tempat asal mereka selama berbulan-bulan membuat mereka di luar pengawasan si empunya domba-domba itu. Keadaan itu memberikan peluang bagi mereka untuk mencuri anak-anak domba yang baru lahir atau menjual bulu-bulu domba tanpa sepengetahuan pemilik domba. Akibatnya, mereka sering dianggap sebagai orang-orang yang tidak jujur dan tidak dipercaya sebagai saksi di pengadilan.

Para gembala itu meninggalkan kandang itu, dengan sangat bersukacita. Sukacita itu pasti bukan karena hal-hal lahiriah. Mereka tetap orang-orang rendahan. Baju mereka sebelum dan sesudah mengunjungi bayi Yesus tetap sama. Mereka pun tak bergembira karena di kandang itu menerima banyak kado natal. Para gembala itu sangat bersukacita karena pengharapan mereka juga seluruh Israel telah terwujud. Penantian yang panjang itu kini telah sampai pada penggenapannya

Pada masa itu, seluruh umat Israel sangat menantikan penggenapan janji Allah akan datangnya seorang Juruselamat. Setelah dibebaskan dari penawanan bangsa kafir—Babel, Media, lalu Persia—Israel dibawa Tuhan kembali ke tanah kelahiran mereka di bawah pimpinan Zerubabel, Ezra, dan Nehemia (lih. kitab Ezra dan Nehemia). Namun itu tak berarti mereka telah menikmati kedamaian. Ibarat lolos dari mulut buaya tapi masuk ke terkaman singa, di tanah mereka sendiri bangsa Israel dijajah oleh bangsa kafir lainnya, yaitu: bangsa Yunani lalu kekaisaran Romawi. Keadaan itu membuat mereka semakin menantikan datangnya Sang Juruselamat, seperti yang dinubuatkan oleh para nabi.

Kabar baik yang disampaikan malaikat pada para gembala tentang kelahiran Juruselamat bagaikan oase di padang pasir. Malaikat itu berkata, "Jangan takut! Sebab saya datang membawa kabar baik untuk kalian" (Luk. 2:10; Bahasa Indonesia Sehari-hari). Kata "kabar baik" (Yunani: euanggelion) pada masa itu adalah kata khas yang menunjuk pada proklamasi akan kelahiran atau hari ulang tahun seorang kaisar, kedewasaan usia, dan terutama pelantikan seorang kaisar. Para penulis Perjanjian Baru dengan sengaja memilih kata itu untuk menyatakan berita atau proklamasi bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan. Mereka hendak menyatakan kepada para pembacanya bahwa Yesus adalah Raja dan Juruselamat yang lebih mulia dan berkuasa dari kaisar.

Pada masa itu memerintahlah kaisar pertama Romawi, Kaisar Agustus (63 SM-14 M). Kaisar itu disebut sebagai Juruselamat (Yunani: soter) dan pembawa damai karena ia dipercaya sanggup mengakhiri semua peperangan. Bahkan, ia disebut sebagai allah dan tuhan (Yunani: theos dan kurios). Kepada para gembala itu malaikat memberitakan kabar baik, bahwa yang lahir hari itu adalah Mesias, Raja keturunan Daud, yaitu Tuhan yang menjadi manusia. Bayi yang baru lahir itu adalah Juruselamat dan Sang pembawa kedamaian sejati (dalam Yes. 9:5 disebut Raja Damai). Malam itu, para gembala diundang untuk datang mengunjungi Raja yang baru lahir itu. Oleh sebab itu, setelah para malaikat itu selesai memuji Tuhan dan meninggalkan padang rumput itu, para gembala bergegas pergi ke kandang itu, di mana Bayi kudus dibaringkan dalam tempat makan hewan.

Sepulang dari kandang itu, tentu saja para gembala sangat bersukacita. Mereka telah menyaksikan penggenapan janji Perjanjian Lama akan lahirnya seorang Raja (baca: Mesias). Maka genaplah nubuatan nabi Yesaya, "Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan" (9:2; bdk. 9:3). Yang membuat para gembala itu bersukacita, bukan hanya karena mereka telah melihat penggenapan janji para nabi, tetapi juga karena hari ini telah lahir Raja yang melampaui Kaisar Agustus, raja terbesar saat itu. Dibanding Agustus, bayi Yesus lebih mulia. Yesus datang ke dalam dunia untuk menghadirkan damai yang sejati yang dibangun atas kasih-Nya pada manusia, bukan kekerasan militeristik seperti kekuasaan Romawi. Terlebih, jikalau para kaisar adalah manusia yang mengangkat diri sebagai tuhan dan allah, Yesus adalah Tuhan sendiri yang menjadi manusia (lih. Yoh. 1:1. 14).

Kelahiran Yesus adalah anugerah yang terbesar bagi umat manusia. Oleh karena anugerah itu kita seharusnya bersuka cita. Sangat menarik, kata "sukacita" punya hubungan yang sangat erat dengan anugerah. Dalam bahasa Yunani (bahasa asli Perjanjian Baru), kata "sukacita" adalah "chara" dan kata "anugerah" adalah "charis." Kedua kata itu mempunyai akar kata yang sama. Jadi jelas, sukacita natal seharusnya bukan karena hal-hal yang berbau natal seperti: kado, baju baru, pesta, kue-kue, gaji ke-13, konser, door prize, souvenir, liburan ke luar negeri, atau perjumpaan dengan sanak saudara dan teman. Meskipun hal-hal itu tak ada pada diri kita, seharusnya sukacita natal itu tetap ada karena Raja Yesus, Tuhan dan Juruselamat manusia telah lahir di hati kita. Sukacita natal itu membuncah tatkala kita mengingat akan anugerah Tuhan yang besar. Ia adalah Allah yang mulia, mau merendahkan diri menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.


SUKACITA NATAL: WARTA YANG MESTI DISEBARKAN

Sukacita natal tak seharusnya dimonopoli oleh sebagian orang. Sukacita itu harus disebarkan pada semua orang. Seperti para gembala yang segera menyebarkan sukacita itu pada semua orang (Luk. 2:18) demikian pun kita. Meskipun para gembala itu sering dianggap saksi yang tak dipercaya, namun itu tak menghambat mereka menyaksikan kelahiran Sang Raja. Dengan sukacita mereka menggemakan warta yang mereka dengar dari malaikat, "Jangan takut! Sebab saya datang membawa kabar baik untuk kalian kabar yang sangat menggembirakan semua orang" (Luk. 2:10; BIS). Mari dengan sukacita kita menceritakan kisah kasih Tuhan Yesus pada semua orang, karena Raja itu lahir untuk semua.

Wednesday, August 26, 2009

10 Alasan Pentingnya Pelayanan Literatur Gerejawi

Menurut pengamatan saya, dalam gereja pelayanan literatur kurang mendapat perhatian yang serius. Dibanding pelayanan lainnya seperti: paduan suara, musik, dan kotbah, pelayanan literatur relatif kurang ditekankan. Setahu saya, tidak banyak gereja yang mengembangkan pelayanan ini secara maksimal. Ada gereja menerbitkan bulletin secara berkala, namun sayang semua penulisnya adalah para hamba Tuhan dari luar gereja tersebut. Akibatnya, jemaat merasa kurang memiliki media tersebut dan kurang diberdayakan untuk menulis.


Artikel ini akan memaparkan 10 alasan mengapa pelayanan literatur gerejawi penting (saya yakin masih ada alasan lain selain dari yang saya kemukakan di sini). Untuk menyamakan persepsi penulis dengan pembaca, perlu dijelaskan di sini maksud pelayanan literatur. Pelayanan literatur adalah semua bentuk pelayanan tulis-menulis yang dilakukan oleh gereja lokal, antara lain: majalah gereja, majalah dinding, berita, bulletin, dan juga internet.


1. Alkitab adalah Literatur yang Kreatif

Dibanding kitab-kitab agama lain, Alkitab terbilang unik. Keunikannya, antara lain, terletak pada jumlah kitab di dalamnya. Alkitab kita terdiri 66 buku! Pernahkah Anda membayangkan bahwa setiap orang Kristen (yang memiliki Alkitab) telah punya sebuah perpustakaan mini. Keunikan lain adalah Alkitab ditulis oleh kira-kira 30 orang penulis dari berbagai profesi mulai dari raja, nabi, nelayan, dan pemungut cukai. Alkitab juga ditulis dalam rentang waktu yang sangat panjang. Kira-kira 2000 tahun lamanya.


Selain itu, Alkitab lebih beragam dalam hal jenis sastra. Alkitab kita jauh lebih kaya dan bervariasi dibanding kitab suci mana pun. Di dalam Alkitab kita ada: cerita, hukum, lagu, sejarah, doa, nubuat, kata-kata hikmat, perumpamaan, surat, bahkan surat cinta.


Meskipun penulisan Alkitab diinspirasikan oleh Roh Kudus, namun penulis Alkitab diberi kebebasan untuk menulis sesuai dengan kreativitas mereka. Roh Kudus tidak mendiktekan kata demi kata kepada penulis Alkitab (adakalanya memang demikian, namun sebagian besar tidak). Mereka diberi kebebasan untuk menulis sesuai bakat mereka masing-masing. Daud, sang penggubah lagu, menulis banyak nyanyian. Penulis kitab Amsal dan Pengkotbah, para bijak bestari, diizinkan menuliskan kalimat-kalimat hikmat. Lukas diberi keleluasaan untuk menghubungkan cerita Yesus (Injil Lukas) dengan sejarah gereja mula-mula (Kisah Para Rasul).[1] Alhasil, Alkitab menjadi kitab yang bukan hanya mengandung banyak jenis tulisan tetapi juga bernilai sastra tinggi.

Alkitab sebagai Firman Allah yang ditulis dengan cara yang kreatif dan puspa ragam menjadi dasar pelayanan literatur gerejawi. Para penulis Alkitab telah memberikan contoh pada kita. Mereka telah menulis firman Allah dengan cara kreatif. Ingat waktu itu, teknologi belum secanggih sekarang. Belum ada mesin fotokopi, mesin cetak, komputer, apalagi Facebook! Pada masa Alkitab orang-orang menulis di atas tablet (lempengan tanah liat), papirus (semacam dedaunan), atau gulungan kulit hewan. Pada masa itu, pendidikan juga belum seluas dan semaju sekarang. Hanya segelintir orang yang punya kesempatan untuk bersekolah dan melek huruf. Namun, keterbatasan itu tak membatasi mereka untuk (terus) menulis.


2. Allah Memerintahkan untuk Menulis

Beberapa kali Alkitab mencatat Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk menulis. Kepada Musa, Allah bersabda: “Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel” (Kel. 34:27; bdk. ayat-ayat lainnya yang serupa mis. Kel. 17:14; Ul. 31:19). Kepada Nabi Yeremia, YHWH juga menyuruh menulis, “Tuliskanlah segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu itu dalam suatu kitab” (Yer. 30:2; bdk. 36:28). Kepada Nabi Yesaya, Nabi Yehezkiel, dan Nabi Habakuk Tuhan juga memberi perintah yang sama (lih. Yes. 8:1; Yeh. 43:11; Hab. 2:2). Perjanjian Baru pun menyatakan dengan jelas bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menulis. Kepada Yohanes, Ia bersabda, “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia” (Why. 1:11). Perintah Tuhan ini dimaksudkan supaya Firman Allah dapat dibaca dan dilakukan umat Tuhan juga diteruskan ke generasi-generasi berikutnya


3. Allah Sendiri Menulis

Di atas Gunung Sinai YHWH memberikan sepuluh perintah kepada bangsa Israel melalui hamba-Nya Musa. “TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung, dan tinggallah di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu, yakni hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka’” (Kel. 24:12). Bukan memberikan perintah-perintah itu secara lisan, YHWH menuliskannya di atas dua lempengan batu. Alkitab tidak menceritakan dengan media apa—halilintar atau api—atau bagaimana cara YHWH menulis perintah-perintah itu. Kita pun tak bisa mengetahui seperti apa bentuk tulisan Allah karena dua keping batu itu telah hilang seiring dengan hilangnya tabut perjanjian, tempat menyimpan dua batu itu.


Bukan sekali saja Alkitab mencatat Allah menulis. Di hadapan Raja Belsyazar dan seluruh pembesar negeri Kasdim yang sedang berpesta pora memakai perkakas bait Allah, Allah menulis. Tulisan itu adalah: “Mene, mene, tekel ufarsin” yang artinya: “Dihitung, dihitung, ditimbang dibagi” (Dan. 5:25) Tulisan itu menyatakan nubuat atas runtuhnya kerajaan Babel yang pongah.

Allah bukan hanya memerintahkan untuk menulis, namun Ia sendiri menulis. Bagi-Nya, tidak cukup hanya berkata-kata. Menurut saya, Allah menulis bukan tanpa maksud. Berkenaan dengan sepuluh perintah, sangat mungkin Allah menuliskan-Nya supaya perintah itu diteruskan turun-temurun tanpa distorsi. Selain itu, perintah itu disimpan di dalam tabut perjanjian sebagai sebuah simbol ikatan perjanjian antara YHWH dan umat-Nya (manusia simbol bukan hanya sesuatu yang bersifat abstrak dan konseptual). Itulah sebabnya ketika Israel tidak lagi melakukan Taurat, maka perjanjian itu berakhir. YHWH tidak lagi menjadi Tuhan atas Israel, sampai Ia membuat perjanjian yang baru di dalam Kristus (Yer. 34).


4.Manusia adalah Imago Dei

Di antara semua ciptaan lain, manusia adalah satu-satunya makhluk yang berbudaya. Pengertian budaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: (1) pikiran, akal budi; (2) adat istiadat; (3) sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju). Hanya manusia yang memiliki pemikiran yang terus berkembang, sehingga mampu melahirkan penemuan-penemuan super canggih yang berguna bagi umat manusia (meskipun banyak juga yang merusak). Juga tidak ada makhluk selain manusia yang memiliki citra seni yang tinggi. Hal tersebut membuktikan bahwa apa yang tertulis dalam Alkitab itu benar adanya. Manusia dicipta segambar dan serupa dengan Allah. Manusia adalah imitasi dari Allah. Meskipun kualitas diri manusia sangat jauh di bawah Khaliknya, namun dibanding ciptaan lain manusia yang terunggul.

Selain karya seni, penemuan-penemuan, dan adat istiadat, tulisan juga adalah produk dari budaya. Melalui tulisan (selain juga seni), manusia mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Dulu sebelum tulisan ada manusia mengungkap hal-hal itu melalui gambar-gambar, seperti yang ditemukan di gua-gua. Belakangan manusia mengungkapkannya melaui tulisan. Sejarah mencatat tulisan pertama kali ditemukan dalam budaya Mesir dan Mesopotamia kira-kira pada 4000 SM dalam bentuk gambar (piktograf).[2]


5. Kekristenan Tumbuh di atas Tulisan-Tulisan

Kekristenan dibangun di atas dasar Firman Tuhan. Selain itu, kekristenan dibangun di atas pengajaran para rasul. Lalu, pengajaran para rasul diteruskan oleh para bapa gereja. Bapa-bapa gereja ini tidak hanya mengajar tetapi juga menulis. Mereka dikenal sampai dengan hari ini karena tulisan-tulisan mereka. Sebut saja: Clement dari Roma yang menulis Surat Clement; Ireneus dari Lyons yang menulis Melawan Bidat-Bidat (ca 180); Origenes dari Aleksandria yang menghasilkan di antaranya Tafsiran Matius dan Tafsiran Injil Yohanes; Tertulianus yang menulis sedikitnya tiga puluh tulisan, dan Agustinus dengan karyanya yang agung: Pengakua-Pengakuan dan Kota Allah.

Tak hanya para bapa gereja (100-400), para reformator pun menghasilkan banyak tulisan yang memengaruhi kekristenan masa kini. Misalnya: John Calvin dengan tafsiran-tafsirannya (ia menulis tafsiran terhadap hampir semua kitab dalam Alkitab) dan Institutio Religionis Christianae.


6. Meninggalkan Warisan Bagi Generasi-Generasi Selanjutnya

Di tengah kita, budaya lisan lebih menonjol ketimbang budaya tulisan. Kita lebih banyak mendengar ketimbang membaca. Mau bukti? Coba perhatikan ruang-ruang tunggu, seperti: bandar udara atau dokter. Coba hitung, banyak mana orang yang menunggu seraya menonton TV dengan orang yang menenggelamkan diri pada bacaan. Di tempat-tempat seperti itu kebanyakan orang menyaksikan TV bukan membaca. Kita juga lebih banyak berbicara daripada menulis. Budaya lisan ini juga merembes ke dalam gereja. Orang-orang lebih menikmati mendengar kotbah, menyimak seminar-seminar ketimbang membaca buku-buku rohani. Para rohaniwan—pendeta, penginjil, penatua—lebih banyak menyajikan ceramah, berkotbah, memimpin rapat, melakukan konseling, dan menyampaikan renungan ketimbang menulis. Bukan berarti saya anti aktivitas berbicara, namun harus ada keseimbangan antara ngomong dan menulis, karena keduanya sama penting.


Jika kita tak memperhatikan budaya tulisan, kita tak pernah meninggalkan warisan bagi orang lain. Kata-kata bijak dalam bahasa Latin berbunyi, “Verba volant, scripta manent,” yang artinya: “kata-kata terbang hilang, sementara tulisan menetap permanen.” Camkan pepatah kuno Tiongkok yang mirip dengan itu, “tulisan yang jelek apapun akan bertahan lebih lama ketimbang ingatan yang paling hebat sekalipun.” Kata-kata yang pernah ditulis (sekarang mungkin lebih tepat diketik) akan bertahan lama. Apalagi tulisan itu pernah diterbitkan dalam media cetak atau media internet. Alkitab dan tulisan bapa-bapa gereja adalah contohnya. Kita masih bisa membaca buku-buku itu sampai saat ini dan dampaknya masih bisa kita rasakan meskipun sang penulisnya telah lama pergi.


7. Menumbuhkembangkan Budaya Baca di Kalangan Orang Kristen

Peradaban kita telah memasuki era teknologi informasi. Tak heran bila internet telah menjadi “makanan sehari-hari.” Seperti lagu dari grup musik Rap tanah air Saykoji tiada hari tanpa, “online, online.” Bagi sebagian orang, sehari saja tidak online, terasa ada bagian hidup yang hilang. Berkaitan dengan baca-tulis, budaya manusia pada umumnya melewati empat tahap: (1) Budaya lisan. (2) budaya membacakan. Budaya ini terjadi ketika sebagian besar orang belum melek baca. (3) Budaya baca. (4) Budaya internet. Sayangnya, sebagian besar penduduk Indonesia melewatkan salah satu dari fase tersebut, yaitu: budaya baca. Belum sempat membaca membudaya di tengah-tengah bangsa Indonesia, kita sudah melompat masuk ke tahap berikutnya: budaya internet. Memang budaya internet juga membaca, namun ada perbedaan mendasar antara budaya internet dan budaya baca. Data internet kebanyakan dangkal dan hanya informatif (mis. Facebook dan Twitter) tanpa adanya interaksi yang intensif antara pembaca dengan bahan bacaannya. Sebaliknya, membaca memungkinkan kita untuk “bercakap-cakap” dengan bacaan melalui mencorat-coret atau menandai bacaan tersebut. Selain itu, kita dapat mengendapkan dan memberikan catatan yang berupa pikiran-pikiran kita kepada bacaan yang kita baca.

Selain itu, rumah kita juga dibombardir dengan tayangan-tayangan TV. Akibatnya, kita lebih senang dengan hal-hal yang bersifat lisan. Sebagian anak-anak sekarang tidak tahan membaca dalam cukup waktu yang lama karena mereka terbiasa melihat gambar yang bergerak dengan cepat (apalagi ditambah dengan aktivitas bermain games). Selain itu, tayangan TV meskipun kadangkala bermuatan topik yang serius namun tidak menuntut banyak pemikiran seperti membaca. Lagi pula, orang tak perlu melek huruf untuk dapat menikmati TV.


Menurut saya, budaya internet dan TV dapat memperlemah daya konsentrasi, kekritisan, daya berefleksi, dan kekuatan imajinasi seseorang. Dengan mengembangkan literatur gerejawi—bulletin, majalah, buku, tabloid, majalah dinding, juga blog[3]—gereja mengambil peran untuk mengurangi dampak negatif dari internet dan TV. Jika anggota jemaat punya kekritisan, kemampuan untuk berefleksi yang dalam, dan daya imajinasi yang menjulang niscaya gereja akan maju dan orang Kristen dapat menjadi berkat di mana pun mereka berada.


8. Memaksimalkan Karunia Jemaat

Dalam 1 Korintus 12 Paulus mengajarkan bahwa gereja itu seperti tubuh manusia. Ada banyak anggota tetapi satu Kepala. Meskipun berbeda-beda tetapi satu. Ketika memakai tubuh manusia sebagai analogi, Paulus sedang menyampaikan kebenaran mengenai kesatuan tubuh Kristus yang memiliki banyak anggota yang masing-masing punya fungsi yang khas. Tiap-tiap anggota dianugerahkan karunia Roh Kudus (ay. 11).


Alkitab mencatat ada lima belas (15) karunia (lih. Rom. 12:4-8; 1Kor. 12:8-10, 28). Namun, menurut saya karunia rohani tidak dibatasi pada lima belas karunia yang disebutkan dalam Alkitab. Pada dasarnya, karunia adalah: “Kemampuan khusus dari Tuhan yang diberikan menurut anugerah-Nya, kepada setiap anggota tubuh Kristus untuk digunakan bagi pengembangan gereja-Nya.” Jadi, kemampuan khusus lain yang dapat dipakai untuk mengembangkan gereja Tuhan termasuk karunia. Di antaranya adalah: kemampuan seni (musik, suara, rupa, drama, sinematografi, fotografi, tari), kemampuan dalam bidang teknologi informasi, juga ketrampilan menulis. Saya percaya di antara jemaat pasti ada yang Tuhan berikan karunia untuk menulis (meskipun pada dasarnya semua orang bisa menulis asalkan tahu caranya dan sering berlatih). Dengan demikian, pelayanan literatur gerejawi dapat menjadi wadah untuk mengembangkan karunia ini.


9. Sarana Pemuridan

Orang Kristen tidak hanya dipanggil untuk menjadi percaya kepada Yesus, melainkan sebagai murid Kristus. Dalam Perjanjian Baru, kata “murid” yang ditulis sebanyak 296 kali—bandingkan dangan kata “Kristen” yang hanya sebanyak enam kali—memakai kata Yunani mathētēs. Kata tersebut tidak hanya dipakai dalam Alkitab, tetapi juga oleh orang-orang pada zaman itu (boleh dikatakan semua kata Yunani dalam Perjanjian Baru adalah kata-kata yang digunakan orang lain pada waktu itu). Secara umum, dalam literatur Yunani masa itu, kata mathētēs berarti “pembelajar” yang dapat menunjuk pada atlet yang sedang berlatih, seseorang yang belajar musik, astronomi, menulis, dan ilmu kedokteran. Pada era itu, kata mathētēs juga dipakai pada seseorang yang belajar pada seorang filsuf atau pengajar agama. Lebih dari itu, kata tersebut juga memiliki arti “seorang pembelajar yang mengikuti suatu gaya hidup yang ia sedang pelajari sehingga gaya hidup itu menjadi ciri khasnya.” Dengan kata lain seorang murid Yesus adalah seorang yang mempelajari kehidupan dan pengajaran Yesus sehingga kehidupan mereka serupa Kristus.


Untuk menjadi murid Yesus, kita perlu mempelajari sumber-sumber selain Alkitab. Salah satunya adalah buku-buku atau tulisan-tulisan rohani. Buku-buku Kristiani adalah alat yang efisien dan efektif untuk pertumbuhan iman karena tahan lama, relatif tidak mahal (apalagi bahan bacaan itu dibaca beramai-ramai), juga dapat dipakai berulang-ulang. Bahan secara tertulis ini dapat dipelajari secara berkelompok sehingga dapat dipakai sebagai bahan pengajaran. Selain itu bahan bacaan dapat dibawa ke tempat-tempat terpencil di mana para pendeta, penginjil, dan pengkotbah tak dapat menjangkaunya. Apalagi sekarang dengan adanya internet, orang yang tinggal di belahan bumi manapun dapat membaca bahan yang sama. Bapak Stephen McElroy, menulis sebuah kesaksian dari seorang hamba Tuhan yang telah melayani di Indonesia lebih dari 20 tahun,

Saya dibesarkan di keluarga yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi waktu remaja saya diundang ikut sebuah summer camp yang membawa pengaruh amat besar dalam diri saya. Ada kolportase di sana dan karena saya adalah pembaca yang bersemangat, saya hanya mencari buku yang paling tebal. Tahu-tahu buku itu adalah biografi seseorang yang belum pernah saya dengar namanya: Hudson Talyor [seorang misionaris di Cina pada abad ke-19]. Saya membacanya beberapa kali sehingga mata saya terbuka tentang apa artinya memiliki hubungan yang hidup dengan Tuhan. Saat itu saya mulai sadar bahwa saya juga dipanggil untuk menjadi hamba Tuhan.


10. Sarana Pekabaran Injil

Literatur dapat menjadi media yang efektif dan efisien untuk penginjilan. Tulisan-tulisan dapat menjangkau banyak orang dengan cara yang relatif mudah (sekali lagi terima kasih kepada internet). Tidak sedikit orang yang bertobat dan menjadi percaya kepada Kristus karena berinteraksi dengan bahan bacaan kristiani. Selain itu, gereja yang memberikan wadah kepada anggotanya untuk mengembangkan kepenulisan, membuka jalan bagi lahirnya penulis-penulis Kristen. Tidak jarang penulis Kristen yang terkenal (termasuk di Indonesia) mulai aktif menulis dan terasah kemampuannya dalam pelayanan literatur gerejawi, seperti: majalah dinding atau bulletin gereja. Kita berdoa agar di masa mendatang dari negeri ini muncul “C. S. Lewis-C. S. Lewis” yang akan mewarnai dunia dengan tulisan mereka. Lewis menulis satu seri dongeng anak-anak berjudul The Chronicle of Narnia. Meskipun itu bukan novel Kristen, namun sarat dengan berita Firman Tuhan. Lewis melakukan apa yang pernah dikatakannya, “Dunia tidak membutuhkan buku-buku Kristen, tetapi buku-buku yang ditulis oleh orang-orang Kristen yang di dalamnya terkandung nilai-nilai kristiani.”



[1]Bandingkan dengan penulis-penulis injil lain yang hanya menulis cerita tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Mereka tidak membuat buku berseri seperti yang dilakukan oleh Lukas.

[2]Tahap perkembangan tulisan adalah: (1) piktografis (berupa gambar); (2) hierografis (berupa simbol); (3) phonetik (huruf).

[3]Blog, yang adalah singkatan weblog, merupakan catatan harian yang diterbitkan di internet sehingga dapat dibaca siapapun. Meskipun blog adalah salah satu jenis internet, namun media ini dapat dipakai gereja untuk memuat tulisan-tulisan yang inspiratif seperti media lain seperti bulletin, tabloid, atau majalah dinding gereja. Bahkan di dalam blog, pembaca dapat menuangkan ide-ide dan tanggapan terhadap tulisan yang dipublikasikan di dalamnya.

Wednesday, August 12, 2009

PEMURIDAN: AMANAT AGUNG TUHAN YESUS (3; terakhir)

PEMURIDAN MENURUT AMANAT AGUNG

Sekarang kita telah memahami bahwa menjadi murid Yesus adalah sebuah perintah yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Mengingat pentingnya perintah ini, ada baiknya kita memahami apa sebetulnya makna menjadi murid Yesus menurut Amanat Agung Tuhan Yesus. Selain itu, saya akan memberikan beberapa usulan praktis bagaimana mewujudkan perintah ini.


Belajar Firman Tuhan

Aspek pertama dari pemuridan adalah “belajar.” Saya rasa bukan kebetulan Tuhan Yesus dan para rasul menggunakan istilah “murid” untuk menyebut orang percaya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, orang-orang pada masa itu, memahami kata “murid” sebagai seseorang yang sedang belajar, entah itu belajar secara akali maupun ketrampilan. Tuhan Yesus pun memerintahkan pada rasul untuk memuridkan semua bangsa melalui mengajar mereka. Kata Yesus kepada para rasul, “ajarlah mereka.”


Pengajaran para rasul itu diturunkan dari generasi ke generasi. Puji Tuhan para rasul itu bukan hanya mengajar, namun beberapa dari mereka menuliskan apa yang diajarkan. Apa jadinya bila semua itu tidak pernah ditulis? Mungkin ajaran itu akan berubah seiring dengan berjalannya waktu dan pemindahan tradisi lisan. Atau bahkan hilang. Para rasul, orang-orang terdekat Tuhan Yesus, menulis apa yang mereka lihat dan dengar (lih. 1Yoh. 1:1), sehingga kita sekarang masih dapat mengajar dan mempelajari apa yang pernah Yesus ajarkan.


Betapa banyak orang Kristen kurang memedulikan perihal belajar ini. Sebagian orang Kristen menganggap iman hanya soal hidup kekal (baca: surga). Pokoknya kalau sudah percaya kepada Tuhan Yesus, mereka rasa aman dan tenang karena kalau mati nanti masuk surga bukan neraka. Cuma itu! Padahal Tuhan Yesus dalam doa-Nya kepada Bapa berkata, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3). Menurut Tuhan Yesus hidup kekal itu bukan hanya surga, namun juga mengenal Bapa dan Dia. Tensa yang dipakai pada kata “mengenal’ dalam ayat ini adalah present yang artinya adalah sebuah proses yang terus menerus. Mengenal Allah bukan hanya sekali sewaktu kita bertobat, namun seumur hidup kita. Untuk kita, perlu membayar harga. Kita harus berdisiplin dalam belajar Firman Tuhan. Seperti seorang siswa yang mendisiplinkan dirinya untuk belajar setiap hari, bukan hanya sehari menjelang Ujian Nasional (UAN). Sebagai murid Yesus, kita pun harus mendisiplinkan diri untuk belajar Firman Tuhan. Bukan kebetulan bila dalam bahasa Inggris kata “murid” (disciple) sangat dekat dengan kata “disiplin” (discipline).


Menurut sebuah survei di Amerika Serikat, orang Kristen di sana menghabiskan waktu untuk menonton TV tujuh kali lebih banyak daripada untuk membaca Alkitab, berdoa, dan menyembah Tuhan. Bagaimana dengan di Indonesia? Saya rasa tidak jauh berbeda (ataukah lebih buruk?). Televisi kita dibombardir dengan berbagai macam acara, mulai dari sinetron, musik, reality show, lawak, sulap, masak-memasak, kuliner, sampai tayangan berita. Akibatnya kita pun betah duduk berlama-lama menatap “kotak ajaib” itu. Lantas kapan waktu kita untuk membaca Alkitab? Kata teman saya, “lima menit saja cukup! Satu menit untuk berdoa, dua menit untuk membaca satu ayat dan dua menit untuk membaca bahan dari penuntun saat teduh.” Hal tersebut tak mengherankan mengingat sekarang bejibun terbitan penuntun saat teduh, yang menuntun pembacanya untuk membaca satu ayat Alkitab saja sehari. Itu pun tak berurutan. Hari ini dari kitab Mazmur, besok Markus, lusa dari Kejadian, dan seterusnya. Akibatnya, pemahaman orang Kristen terhadap Alkitab menjadi sepotong-sepotong dan tidak menyeluruh. Tak heran bila ada seorang Kristen yang mengaku telah menjadi murid Yesus sekian lama, menjawab sebuah pertanyaan, “ikan apa yang makan Yunus?” dengan jawaban “ikan Gabus.” Aneh memang, tapi nyata!


Jadi, apa yang harus kita lakukan? Usul praktis saya adalah luangkan waktu untuk membaca Alkitab secara berurutan. Jika Anda membaca tiga pasal setiap hari, niscaya dalam setahun seluruh Alkitab akan dibaca habis. Saran berikutnya, luangkan waktu untuk ikut kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab supaya kita bisa belajar bersama. Lalu, jangan ragu untuk bertanya kepada orang lain (mis. hamba Tuhan di gereja Anda) bila ada hal-hal dalam Alkitab yang kurang Anda mengerti.


Hidup menurut Firman Tuhan

Yesus tidak hanya memerintahkan para rasul mengajar orang lain untuk memahami perintah-perintah-Nya. Para rasul juga diperintahkan untuk mengajar para murid untuk “melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:20). Alkitab memberi kesaksian bahwa para rasul dan murid Yesus tidak hanya belajar untuk memahami ajaran Tuhan Yesus, mereka juga belajar untuk melakukan ajaran itu. Dalam Kisah Para Rasul 11:26, tertulis “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” Ayat ini menarik karena sebutan Kristen yang artinya “pengikut Kristus” tidak muncul dari kalangan orang percaya, melainkan dari orang non-Kristen. Mengapa orang luar menyebut orang percaya pengikut Yesus? Saya rasa bukan hanya karena mereka menyembah Yesus sebagai Tuhan bukan Kaisar. Alasan lainnya adalah karena hidup mereka seperti kehidupan dan pengajaran Tuhan Yesus yang mereka sembah.


Tuhan Yesus pernah berkata, kepada para murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mat. 16:24). Di dalam ayat itu kita menemukan hakikat menjadi murid Yesus. Menjadi murid-Nya tidak hanya sebatas mengenal Yesus tetapi juga mengikuti jejak-Nya. Ia mau supaya kita hidup seperti hidup-Nya. Yesus menghendaki kita untuk menanggalkan diri lama kita yang telah dikuasai oleh dosa lalu mengikuti gaya hidup Yesus sepenuhnya, seperti Ia pernah bersabda, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48).


Seperti yang telah dijabarkan, kata “murid” (Yunani mathētēs) mengandung dimensi yang lebih luas dari sekadar pemahaman. Pengertian “murid” pada waktu itu mencakup juga gaya hidup seseorang yang mengikuti apa yang ia pelajari sehingga itu menjadi ciri khasnya. Pertanyaannya adalah apakah ajaran dan diri Yesus telah menjadi gaya hidup kita? Apakah Firman Tuhan telah menjadi ciri kehidupan kita? Apakah orang lain melihat diri Kristus dalam kehidupan kita?


Pada mulanya, Allah menciptakan Adam sebagai gambar-Nya. Itu artinya ia memancarkan kemuliaan dan sifat-sifat Allah. Sayang, dosa telah merusak gambar itu. Pelanggaran manusia terhadap hukum Allah telah membuat gambar Allah dalam diri manusia menjadi kabur. Melalui Kristus, Allah ingin mengembalikan gambar itu. Biarlah kehidupan kita menjadi gambar Allah. Orang dapat melihat Kristus dalam diri kita, seperti perkataan Paulus kepada jemaat di Korintus, “kamu adalah surat Kristus” (2Kor. 3:3).


Alangkah indahnya bila setiap orang Kristen menjadi murid Kristus. Tentunya dunia akan menjadi lebih baik karena di tempat mereka masing-masing orang Kristen akan menaburkan kasih dan memancarkan kemuliaan Allah. Mereka akan memengaruhi dunia bahkan menjadi agen-agen pengubah. Bukan sebaliknya mereka diubah menjadi serupa dengan dunia. Untuk itu, setiap orang Kristen perlu komunitas untuk bertumbuh bersama. Untuk menjalani hidup sebagai murid Yesus di tengah dunia yang rusak ini tidak mudah. Jika kita melakukannya sendirian, kemungkinan besar kita akan hanyut dan kembali pada jalan dunia. Dengan hidup dalam komunitas yang dibangun di atas kasih dan kepercayaan, setiap murid Yesus mendapat kesempatan untuk saling mendukung. Bila ada seorang murid yang lemah yang lainnya menguatkan. Bila ada yang mengalami pergumulan, para murid lain mendoakan.


Memuridkan Orang Lain

Menjadi murid Yesus tidak berhenti pada diri sendiri. Melalui Amanat Agung, para murid diajar untuk tidak menjadi egois. Menyimpan sendiri anugerah keselamatan itu. Mereka diperintahkan Tuhan Yesus untuk “pergi.” Kata “pergi” di sini bukan hanya memiliki arti harfiah, “meninggalkan tempat mereka.” Namun perintah ini juga mengandung arti lain: “meninggalkan zona nyaman (comfort zone) dan keegoisan mereka.” Mereka yang dulunya menganggap keselamatan adalah hak ekslusif orang Yahudi, umat perjanjian, secara perlahan mengalami perubahan paradigma. Mereka yang tadinya menganggap bahwa untuk menjadi murid Kristus harus menjadi orang Yahudi (melalui menjalani ritual sunat dan menghindari makanan-makanan tertentu), sedikit demi sedikit mulai terbuka bahwa menjadi murid Yesus adalah hak bagi semua orang. Semua orang, baik orang Yahudi maupun bukan, punya kedudukan yang sama dalam keluarga Allah. Pada masa kini, banyak orang Kristen punya kemiripan dengan para rasul, setidaknya dalam hal keengganan untuk pergi. Sebagian orang percaya tidak mau memuridkan orang lain dengan berbagai alasan. Ada yang merasa memuridkan adalah bagian para pendeta atau penginjil, bukan tugas mereka. Sebagian lagi, berdalih bahwa mereka tidak bisa. Sedangkan sisanya mengatakan mereka tidak ada waktu. Seorang murid Kristus sejati tak akan lari dari tugas untuk memuridkan orang lain. Tugas memuridkan orang lain meliputi: memperkenalkan Kristus kepada orang lain, kemudian membimbing orang itu untuk bertumbuh dalam pengenalan dan iman kepada Kristus sehingga kehidupannya menjadi serupa Kristus.


Pemuridan itu mirip dengan pola MLM (Multi Level Marketing). Member get member (anggota merekrut orang lain sebagai anggota). Kita yang telah menjadi murid memuridkan orang lain, orang lain itu memuridkan orang lainnya lagi, begitu seterusnya. Praktik semacam ini yang dilakukan oleh para rasul. Murid-murid Yesus pertama hanya dua belas orang, kini telah menjadi milyaran orang yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Apa yang telah mereka lakukan? Tak lain adalah memuridkan orang. Cikal bakal gereja mula-mula adalah tiga ribu orang yang bertobat karena kotbah Petrus (baca Kis. 2:14-41). Kemudian, tiga ribu orang yang sudah percaya itu dimuridkan oleh para rasul. “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul,” demikian deskripsi dokter Lukas tentang orang-orang yang sudah bertobat (Kis. 2:42). Lantas tiga ribu orang ini memuridkan orang lain, demikian seterusnya.


Gereja masa kini memerlukan banyak orang Kristen yang mau terlibat dalam tugas pemuridan. Bila tugas pemuridan hanya dibebankan di pundak para pendeta atau hamba Tuhan penuh waktu maka pemuridan tidak akan berjalan dengan efektif. Tugas para hamba Tuhan adalah membekali—dengan metode dan bahan-bahan—para murid Kristus agar mereka dapat memuridkan orang lain dengan benar. Demikian ditulis oleh Rasul Paulus, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (Ef. 4:11-12). Lalu tugas para murid Yesus adalah melakukan pemuridan kepada orang Kristen lainnya, sehingga gereja dapat bertumbuh dan memberikan pengaruh bagi dunia. Tinggal sekarang pertanyaannya: “mau?” (baca seperti reklame sebuah penyedia layanan telepon genggam).


SUMBER:

Coleman, Robert E. The Master Plan of Discipleship. Old Tappan: Fleming H. Revell, 1987.

Eims, LeRoy. Pemuridan: Seni yang Hilang. Tr. Susi Wiriadinata. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1982.

Sider, Ronald J. The Scandal of the Evangelical Conscience. Tr. Perdian K. M. Tumanan. Surabaya: Literatur PERKANTAS Jatim, 2007.

Wilkins, Michael J. Discipleship in the Ancient World and Matthew’s Gospel. 2nd Edition. Grand Rapids: Baker, 1995.


Willard, Dallas. The Great Omission: Reclaiming Jesus' Essential Teachings on Discipleship. New York: HarperSan Francisco, 2006.