Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Perjalanan

Stereotipe

Saya sering dengar orang bilang orang bule itu individualistis, cuek, dan nggak peduli orang lain. Nyatanya selama beberapa waktu di Vancouver, saya mendapati bahwa anggapan itu tak sepenuhnya betul. Setidaknya, itu yang kami (saya dan Acen) lihat. Hari Senin yang lalu, 21 Juli 2008, kami naik bus pulang dari Capilano Suspension Bridge (mengenai jembatan ini saya akan ceritakan di bagian lain). Ketika bus berhenti di sebuah halte, ada seorang gadis Asia (mungkin orang Hongkong) yang hendak naik bus yang kami tumpangi. Gadis itu naik sepeda jadi ia harus menaruh sepedanya di rak khusus sepeda di depan bus (contohnya seperti gambar di bawah). Di sini, orang naik sepeda dan menitipkan sepedanya di bagian depan bus. adalah hal yang biasa. Masalahnya, ia nggak bisa menaruh sepeda itu di depan bus. Mungkin ini pertama kali ia naik bus dengan sepeda. Ia tanya pada supir bus, "How to use it?" Supir bus itu tidak menjawab apa-apa cuma menggerak-gerakkan tangan seperti mengangkat ses...

Jesus Loves You!

Kemarin, 29 Juni 2008, kami ikut persekutuan dengan anak-anak pemuda GII Vancouver. Kali ini persekutuan diadakan di Pantai Kitsilano . Vancouver itu unik. Di sini, orang-orang bisa rekreasi ke pantai tetapi juga ke gunung. Saat kami ke sana, pantai itu penuh dengan orang. Maklum, di negeri empat musim seperti ini sinar matahari begitu berharga. Jadi, mereka tidak akan menyia-nyiakan summer kaya gini , apalagi pas weekend . Ada yang main bola voli, basket, lempar-lemparan Frisbee , juga berjemur. Ada beberapa permainan yang baru buat kami. Misalnya, ada permainan lempar bola (kami lupa tanya nama game -nya). Permainan ini diikuti oleh sekitar lima orang peserta. Masing-masing peserta diberi dua bola kecil dengan warna yang sama. Lalu, salah seorang peserta melempar bola putih yang lebih kecil. Setelah itu, setiap peserta melemparkan bola-bola mereka ke arah bola putih itu. Siapa yang paling dekat dengan bola itu dialah pemenangnya (mungkin saja saya salah mengerti permainan ini karena ...

Vancouver, We’re Coming!

"Kalian akan pergi ke Vancouver? Wow, Vancouver adalah sebuah kota yang sangat indah!" Begitulah tipikal respons orang-orang yang mengetahui rencana kami untuk melayani di kota Vancouver. Terus terang, tak pernah ada dalam pikiran kami untuk bisa mengunjungi kota itu. Namun, rencana Tuhan memang lebih dari apa yang pernah kami pikirkan. Singkatnya, kami diundang untuk melayani Gereja Injili Indonesia yang ada di Vancouver selama gembala sidangnya mengambil cuti selama dua bulan. Setelah kami mendoakan dan menerima undangan pelayanan tersebut, maka, segala persiapan pun dilakukan, mulai dari urusan tiket pesawat, visa, sampai tanya sana-sini hal ikhwal perjalanan panjang (yang memang belum pernah lakukan). Akhirnya, setelah menunggu lebih dari setengah tahun, hari yang kami nanti-nantikan pun tiba. Kami pun melakukan sebuah perjalanan yang panjang dan melangkah dengan iman. Tanggal 26 Juni 2008 (pk. 09.20; semestinya pk. 08.20 tapi pesawat delay karena faktor cuaca) kami ter...

Dislokasi Patellar

“Dislokasi patellar, hmmm . . . apaan tuh?” Barangkali begitu respons, sebagian dari pembaca judul tulisan ini. Saya pun mungkin akan berespons sama, apabila saya tidak mengalaminya sendiri. Secara awam, dislokasi patellar berarti tempurung (lutut) yang bergeser dari tempatnya. Kalau Anda ingin tahu lebih banyak tentang hal ini bisa mengunjungi beberapa website . Silakan klik saja di sini , di tempat ini , dan kata ini . Nah, itu yang sama alami pada hari Rabu malam (3 Oktober 2007). Waktu itu saya sedang olah raga bulu tangkis, bersama dengan rekan-rekan dosen di sebuah lapangan bulutangkis (ya pasti lah main bulutangkis di lapangan bulu tangkis masak di pasar?). Setelah saya melakukan sebuah lompatan, tiba-tiba lutut kiri saya berderak keras. Seketika itu juga saya langsung berpikir, pasti tempurung saya pindah tempat! Gambar lutut kanan yang patellanya bergeser ke kanan Mengapa saya bisa kepikiran begitu? Soalnya tahun 1995 awal, jadi dua belas tahun yang lalu saya pernah mengalam...

Wisuda

Saat-saat yang dinanti-nantikan pun tibalah. Setelah dua tahun dua bulan bergelut dengan buku dan tugas-tugas, akhirnya akupun diwisuda. Rasa gembira membuncah di dada. Sayang, di momen indah ini, papa dan mama tak ada. Mereka semua telah kembali ke surga. Tak sempat menyaksikan anak mereka diwisuda. Papa dan mama, gelar yang kuperoleh ini kupersembahkan untuk kalian. Jasa kalian tak ada duanya bagiku! Wisuda tahun ini amat spesial. Acara itu dirangkai dengan kebaktian HUT SAAT ke-55 dan peresmian kampus baru SAAT. Alhasil, acara itu pun harus digelar di dalam tenda. Tak hanya itu, acara wisuda berlangsung amat cepat (saya rasa belum pernah ada acara wisuda di SAAT secepat waktu itu). Tak ada waktu tersendiri bagi tiap wisudawan. Semua yang diwisuda berbaris ("kayak orang antri sembako" kata temen saya), dan Pak Peter Wongso (rektor kehormatan) pun memindahkan rumbai pada topi toga tiap wisudawan secepat kilat. "Kuliahnya bertahun-tahun, kok wisudanya cuma sekian detik,...

Masta '94

Pada tanggal 18-20 September 2007, yang lalu diadakan konvensi alumni SAAT. Acara itu diikuti oleh sekitar 400-an alumni SAAT dari angkatan 1952 sampai lulusan terakhir. Selain untuk menyegarkan kembali semangat pelayanan, acara itu menjadi ajang kangen-kangenan antar alumni SAAT yang telah bertahun-tahun tak bersua. Dalam acara itu, teman-teman seangkatanku sewaktu studi di almamater pun hadir. Tak kurang ada 15 orang (dari 39 orang) yang datang. Senang ketemu dengan teman-teman lama. Kami pun bercanda bersama. Bernostalgia. Pengalaman-pengalaman lucu plus haru yang pernah kami alami bersama pun menyeruak dalam tiap percakapan kami. Kami pun saling mendoakan pergumulan kami masing-masing. Pada hari Kamis siang, di sela-sela acara konvensi (memang oleh panitia telah didesain satu waktu bebas supaya masing-masing angkatan bisa kumpul bareng), kami makan siang bersama di sebuah resto Sunda di pinggiran kota Malang. Di latari musik degung kami pun bercengkrama dan bersukacita. Kami juga m...

Fitri

Gadis kecil itu bernama Fitri. Ia memang bukan gadis sembarangan. Meskipun usianya baru sebelas, namun ia sudah kelas satu SMP. Katanya, ia pernah dua kali loncat kelas. Kemampuan intelektualnya memang di atas rata-rata. Namun, bukan itu yang membuatku mengaguminya. Kuingat saat pertemuan pertamaku dengannya (memang sejak saat itu aku tak lagi berjumpa dengannya). Jarum pendek jam tanganku berada di dekat angka tujuh. Malam itu, aku hendak beranjak meninggalkan kantor. Tiba-tiba, kulihat gadis itu berjalan ke arahku. Ia sedang menenteng sekeranjang kue. Rupanya, ia sedang menjajakan kue-kue bikinan ibunya. “Mulai jam empat sore sampai jam delapan malam, kalau kuenya habis saya pulang jam tujuh,” jawabnya ketika kutanya tentang jam-jam ia menjajakan kuenya. “Setiap hari?” tanyaku keheranan. “Ya,” ia pun menjawab pertanyaanku. “Lalu kapan kamu belajar?” aku langsung nyerocos bertanya. “Aku belajar dari jam sembilan sampai jam dua belas. Aku harus rajin belajar karena aku kepingin dapat b...