Skip to main content

Posts

Perpisahan

Tanpa terasa, dua bulan saya dan Acen ada di tengah-tengah jemaat GII Vancouver. Akhirnya, tanggal 25 Agustus 2008 kami harus kembali ke Malang. Kebersamaan dengan segenap jemaat GII Vancouver merupakan masa-masa indah bagi kami. Di mana kami tertawa bersama dan saling berbagi satu dengan yang lain. Kami sungguh bersyukur pada Tuhan untuk semua kesempatan itu. Kini, kami sudah kembali ke SAAT, Malang untuk melanjutkan tugas yang dipercayakan Tuhan pada kami. Semoga Tuhan memberkati GII Vancouver dan seluruh jemaatnya. Foto-foto minggu terakhir kebersamaan kami dengan GII Vancouver diliput oleh Christian Losari dalam blognya. Silakan klik di sini!

Stereotipe

Saya sering dengar orang bilang orang bule itu individualistis, cuek, dan nggak peduli orang lain. Nyatanya selama beberapa waktu di Vancouver, saya mendapati bahwa anggapan itu tak sepenuhnya betul. Setidaknya, itu yang kami (saya dan Acen) lihat. Hari Senin yang lalu, 21 Juli 2008, kami naik bus pulang dari Capilano Suspension Bridge (mengenai jembatan ini saya akan ceritakan di bagian lain). Ketika bus berhenti di sebuah halte, ada seorang gadis Asia (mungkin orang Hongkong) yang hendak naik bus yang kami tumpangi. Gadis itu naik sepeda jadi ia harus menaruh sepedanya di rak khusus sepeda di depan bus (contohnya seperti gambar di bawah). Di sini, orang naik sepeda dan menitipkan sepedanya di bagian depan bus. adalah hal yang biasa. Masalahnya, ia nggak bisa menaruh sepeda itu di depan bus. Mungkin ini pertama kali ia naik bus dengan sepeda. Ia tanya pada supir bus, "How to use it?" Supir bus itu tidak menjawab apa-apa cuma menggerak-gerakkan tangan seperti mengangkat ses...

Hotpot party w/ pemuda GII

Hari Sabtu kemarin, 12 Juli 2008, kami berpesta hotpot dengan anak-anak pemuda GII. Kalau di Indonesia orang sering bilang itu sabu-sabu. Acara hotpot didahului dengan persekutuan pemuda dan PA tentang "Intisari Alkitab bagian pertama." We're really enjoy the party! Foto-foto kebersamaan itu dapat dilihat di blog Christian Losari , sang "fotografer" GII. Enjoy!

GODAAN: KARAKTERISTIK DAN BAGAIMANA MENGHADAPINYA

Bahan PA dari Yakobus 1:12-18 KISAH "TRAGIS" TED HAGGARD Ted A. Haggard adalah seorang pendeta besar. Ia adalah pendiri gereja New Life di Colorado Springs, Amerika Serikat yang beranggotakan ribuan orang. Ia juga ketua Asoasiasi Gerakan Injili Amerika Serikat (National Association of Evangelical). Ironisnya, Ted Haggard dilaporkan oleh Mike Jones, tak lain adalah pelacur laki-laki yang adalah pasangan homoseksual karena telah memaksanya meminum obat terlarang sebelum melakukan perzinahan. Celakanya, hubungan amoral itu telah berjalan selama tiga tahun. Awalnya, Ted Haggard tak mengakui tuduhan tersebut. Belakangan ia mengakuinya. Karena dosa tersebut, pada tanggal 3 November 2006 , Ted Haggard mundur dari jabatannya sebagai pendeta dan ketua Asoasiasi Gerakan Injili Amerika Serikat. Pada tanggal 5 November 2006 , ia menuliskan sebuah pengakuan, "Sebenarnya saya adalah seorang telah bersalah dalam dosa seksualitas. Saya adalah seorang penyesat dan seorang pembohong. Ada ...

Jesus Loves You!

Kemarin, 29 Juni 2008, kami ikut persekutuan dengan anak-anak pemuda GII Vancouver. Kali ini persekutuan diadakan di Pantai Kitsilano . Vancouver itu unik. Di sini, orang-orang bisa rekreasi ke pantai tetapi juga ke gunung. Saat kami ke sana, pantai itu penuh dengan orang. Maklum, di negeri empat musim seperti ini sinar matahari begitu berharga. Jadi, mereka tidak akan menyia-nyiakan summer kaya gini , apalagi pas weekend . Ada yang main bola voli, basket, lempar-lemparan Frisbee , juga berjemur. Ada beberapa permainan yang baru buat kami. Misalnya, ada permainan lempar bola (kami lupa tanya nama game -nya). Permainan ini diikuti oleh sekitar lima orang peserta. Masing-masing peserta diberi dua bola kecil dengan warna yang sama. Lalu, salah seorang peserta melempar bola putih yang lebih kecil. Setelah itu, setiap peserta melemparkan bola-bola mereka ke arah bola putih itu. Siapa yang paling dekat dengan bola itu dialah pemenangnya (mungkin saja saya salah mengerti permainan ini karena ...

Vancouver, We’re Coming!

"Kalian akan pergi ke Vancouver? Wow, Vancouver adalah sebuah kota yang sangat indah!" Begitulah tipikal respons orang-orang yang mengetahui rencana kami untuk melayani di kota Vancouver. Terus terang, tak pernah ada dalam pikiran kami untuk bisa mengunjungi kota itu. Namun, rencana Tuhan memang lebih dari apa yang pernah kami pikirkan. Singkatnya, kami diundang untuk melayani Gereja Injili Indonesia yang ada di Vancouver selama gembala sidangnya mengambil cuti selama dua bulan. Setelah kami mendoakan dan menerima undangan pelayanan tersebut, maka, segala persiapan pun dilakukan, mulai dari urusan tiket pesawat, visa, sampai tanya sana-sini hal ikhwal perjalanan panjang (yang memang belum pernah lakukan). Akhirnya, setelah menunggu lebih dari setengah tahun, hari yang kami nanti-nantikan pun tiba. Kami pun melakukan sebuah perjalanan yang panjang dan melangkah dengan iman. Tanggal 26 Juni 2008 (pk. 09.20; semestinya pk. 08.20 tapi pesawat delay karena faktor cuaca) kami ter...

Hidup karena Iman Bukan karena Melihat: Sebuah Refleksi dari Kisah Hidup Ayub

Penderitaan—dalam segala bentuknya—merupakan bagian hidup anak manusia, tak terkecuali orang-orang percaya. Meskipun Herlijana, seorang anak Tuhan, bahkan pelayan Tuhan, namun hidupnya tak luput dari penderitaan. Betapa tidak, selama bertahun-tahun ibu dari satu anak ini didera oleh berbagai macam penyakit. Bertubi-tubi. Kisah sedih itu dimulai tahun 2007, saat dokter memvonisnya menderita kanker payudara dan ia harus menjalani operasi. Setelah operasi, dokter mendiagnosis kankernya telah menjalar sampai ke getah bening. Alhasil, Herlijana pun harus menjalani serangkaian pengobatan—seperti radiasi dan kemoterapi—yang amat menyiksa. Penderitaannya tak cukup sampai di situ. Di bekas operasinya, timbul abses, sehingga ia harus dioperasi lagi. Selain itu, berbagai penyakit lain pun hinggap di tubuhnya yang semakin ringkih: vertigo, insomnia, kram pada kedua kaki, paru-paru sebelah kanan terendam air, sampai mata kiri yang buta. Ketika menapaki jalan hidup terjal nan penuh derita itu, Herl...