Skip to main content

Posts

PENYAKIT SUAMIKU: ALS (Bagian 4/Tamat)

Sejak itu, keadaan suamiku makin melemah. Ia tidak pernah keluar dari kamarnya yang ber-AC dingin sekali. Sangking dinginnya, setiap kali aku masuk kamar aku harus pakai jaket. Hanya jam 7 pagi suamiku berjemur di luar karena pada muka dan kepalanya ada jamur, itupun hanya 15 menit. Setiap kali kumasukkan makanan dan minum lewat lobang di perutnya saat ia duduk di ruangan yang tidak ber-AC, keringat mengalir deras dari kepalanya, lalu dia merasa sesak nafasnya. Hal inilah yang menyebabkan suamiku terus tiduran di kamar. Selain itu, suamiku sering jatuh terpeleset dan kakinya sering bergerak-gerak tanpa bisa dikendalikan bila ia berdiri atau berjalan. Awal Oktober 2007, kepala suami sering berkeringat sangat banyak walaupun ia berada di dalam ruang yang ber-AC dengan suhu dingin. Air liurnya juga banyak keluar dari mulutnya. Akibatnya handuk kecil yang dipakai untuk mengeringkannya harus diganti terus. Ketika suamiku batuk sedikit, lendir yang kental akan menyumbat pernafasannya. Tangga...

PENYAKIT SUAMIKU: ALS (Bagian 3)

Karena keadaan suamiku semakin memburuk dan berat badannya tinggal tiga puluh enam kilogram–itu berarti berat sudah turun enam belas kg dari saat ia sehat, ada saudara sepupuku membantuku untuk membawa suamiku untuk diperiksa di Singapura. Selain memeriksakan diri, kami juga hendak membeli obat Rilusol, obat untuk menghambat kelumpuhan yang diderita suamiku. Obat itu tidak tersedia di Indonesia, tetapi hanya dapat dibeli di Singapira, Australia, atau negara lainnya. Pada tanggal 16 Juli 2007, berangkatlah aku dan suamiku ke Singapura diantar oleh saudara sepupuku ke Singapura. Tanggal 17 Juli 2007, suamiku diperiksa oleh dokter Tan Chai Beng di RS Gleneagles. Sendi-sendi tangan dan kakinya diketuk dengan sebuah alat. Hasilnya, kaki suamiku masih bergerak, tangan kanannya bisa bergerak sedikit, sedangkan tangan kirinya tidak dapat bergerak sama sekali. Sorenya, kami datang lagi ke dokter Tan Chai Beng untuk pemeriksaan EMG. Hasil EMG, suamiku positif terkena penyakit ALS ( amyotrophic l...

Penyakit Suamiku: ALS (Bagian Kedua)

Pada tanggal 21 Desember 2006, suamiku memeriksakan diri pada dokter Laksmiasanti (spesialis syaraf) di Yogyakarta. Dokter itu meminta suamiku untuk melakukan pemeriksaan darah lengkap. Dari hasil pemeriksaan laboratorium tersebut, dr Laksmi mengatakan bahwa suamiku kena virus. Tetapi, ia tidak bisa memastikan virus apa bercokol di tubuh suamiku. Selain itu, hasil pemeriksaan itu menunjukkan bahwa TsHs suamiku di bawah normal. Kata dokter, ada kelainan dalam kelenjar tiroid suamiku. Oleh sebab itu, dokter tersebut memberi suamiku obat PTU. Tanggal 11 Januari 2007, suamiku berobat juga ke dokter Djokomoeljanto, ahli endokrinologi (spesialis kelenjar), untuk mengetahui apakah kelumpuhan lidah itu disebabkan gangguan pada kelenjar tiroidnya. Dr. Djoko tidak membaca hasil pemeriksaan darah, tapi hasil MRI. Dr. Djoko berkata otak suamiku mengecil. Lalu dokter itu memberi suamiku resep untuk 2 minggu. Bila tidak ada kemajuan, suamiku disuruh untuk melakukan konsultasi kepada dokter ...

Penyakit Suamiku: ALS (Bagian Pertama)

Seperti yang pernah saya ceritakan, suami kakak perempuan saya beberapa waktu yang lalu terkena penyakit ALS ( Amyotrophic Lateral Sclerosis ) dan akhirnya meninggal dunia . Berikut ini adalah sharing dari kakak perempuan saya perihal sakit suaminya. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi berkat bagi orang lain. Berhubung kakak perempuan saya tidak memiliki blog , maka menitipkan untuk dipublikasikan lewat blog ini. Berikut ini adalah bagian pertama dari seri kesaksian tersebut. ----------- Kira-kira bulan September 2005, tanggalnya aku lupa, gigi suamiku, Tjan Tjang Siong atau yang biasa dipanggil Siaw Bing, dicabut. Yang dicabut ialah gigi taring sebelah kanan. Gigi itu terpaksa harus dicabut karena gigi itu tinggal separuh sebab terdapat lubang di pinggirnya. Sebelumnya, gigi yang ada di sebelah gigi taring itu juga sudah dicabut. Jadi, ada dua buah gigi berdampingan yang dicabut. Setelah dua gigi bagian atas itu dicabut, suamiku merasa ada perbedaan. Ia mengalami kesul...

ANAK-ANAK YANG MEMBANGGAKAN

Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang Mazmur 127:5 Pada tahun 1900, A. E. Winship meneliti garis keturunan dari dua orang yang hidup pada zaman yang sama. Orang pertama adalah seorang laki-laki ateis yang hidup berantakan dan menikahi seorang wanita yang tidak saleh. Pria itu diberi nama samaran Max Jukes (lahir 1700). Dari keturunan Jukes didapati: 400 orang berkepribadian merusak diri sendiri, 310 orang mati dalam kemiskinan, 130 orang pernah dipenjara dengan rata-rata hukuman 13 tahun penjara, 190 orang adalah pelacur, 7 orang adalah pembunuh, 540 orang telah merugikan negara sebesar US $ 1.250.000, dan dari semua keturunannya hanya ada 20 orang yang memiliki pekerjaan tetap. Yang kedua, Winship menyelidiki keturunan Jonathan Edwards (lahir 1703), seorang pengkotbah yang terkenal yang menikahi seorang wanita yang saleh. Dari 1394 orang keturunannya yang d...

Sampai Maut Memisahkan Kita

Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya (Ef. 5:33) Robertson McQuilkin berada di persimpangan jalan. Ia harus memilih antara merawat sendiri Muriel, istrinya yang terkena penyakit Alzheimer atau mempertahankan jabatannya sebagai rektor Sekolah Alkitab dan Seminari Columbia. Akhirnya, ia memilih untuk melepaskan pekerjaannya demi menemani istrinya. Demikian petikan surat pengunduran diri yang dibuatnya, “Keputusan telah saya buat, empat puluh dua tahun yang lalu saya telah berjanji untuk mengasihi Muriel, ‘di dalam sakit maupun sehat sampai maut memisahkan kita’. . . . Muriel telah memperhatikan saya dengan sungguh-sungguh dan penuh pengorbanan selama tahun-tahun itu. Seandainya saya merawatnya sampai empat puluh tahun lagi, saya tetap berhutang kepadanya. . . . ini lebih sekadar tugas, sebab saya mengasihi Muriel. . . . Saya tidak harus merawatnya, tetapi saya ingin melakukannya! Saya...

Tjan Tjang Siong (1963-2007)

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang suami kakak perempuan saya yang terkena ALS ( Amyothropic Lateral Sclerosis ). Pada hari Rabu yang lalu (10 Oktober 2007); tepatnya pk. 11.50 WIB, kakak ipar saya itu telah berpulang. Tjan Tjang Siong, atau yang lebih kami kenal dengan nama Tjan Siaw Bing meninggal dunia karena kelumpuhan yang telah menyerang otot dadanya. Menurut dokter, penyakit ALS yang dideritanya membuat kelumpuhannya menyebar. Mula-mula, otot lidahnya tak dapat berfungsi. Alhasil, Siaw Bing kesulitan berbicara dan makan. Kemudian, otot lehernya mulai lumpuh sehingga ia tak dapat menelan makanan (juga minuman) dan menegakkan kepalanya. Tak lama kemudian tangan-tangannya pun makin sulit untuk digerakkan. Akhirnya, seminggu sebelum meninggal ia kesulitan untuk bernafas sehingga harus mengirup udara dari tabung oksigen. Ia pun sempat tak sadar selama kurang lebih dua jam sebelumnya meninggal. Akhirnya, ia pun tutup usia pada umur 44 tahun, di RS Mardi Rahayu, Kud...